2704/2021 admin. 🗓 27 April 2021. 📖 Roma 8:1-17. 🙏 Hidup dipimpin Roh Allah. Renungan. Yesus pernah mengkritik tajam beberapa pemuka agama Yahudi karena tidak memercayai Dia, padahal Alkitab menyaksikan Dia. Yesus berkata, kamu adalah anak-anak pembunuh dan pendusta karena bapamu, Iblis adalah pembunuh manusia dan pendusta (Yoh. 8:44-47).
Roma1:16b berbunyi: "karena injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani". Poin ini tampaknya mendapatkan penekanan di 1:16-17. Kata "iman" muncul sebanyak tiga kali di ayat 17.
Pembenahanitu dilakukan dalam lingkup eksternal dan internal. Hal-hal yang dia lakukan, seperti yang dituliskan dalam bahan khotbah kita (2 Tawarikh 17:1-9) adalah: Pembenahan Eksternal : Ay. 2 (Militer): Menempatkan pasukannya di Yehuda dan kota-kota Efraim yang direbut ayahnya, Asa. Ay, 6b (praktek kerohanian): Membersihkan tempat-tempat
BacaanFirman Tuhan: Roma 8: 14-17. "Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah". Hidup rohani, umat yang percaya kepada Kristus Yesus yang dimerdekakan dari kuasa daging.
Muslim Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat Singkat Terbaru: Makna Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H. Subhanallah, betapa agungnya puasa ini. Bahkan di awal-awal Islam ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala belum mewajibkan puasa Ramadhan, maka puasa Asyura itu termasuk puasa yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kaum
slPo8. Renungan Harian Roma 1 16-17 Renungan Harian Roma 1 16-17. Setelah menyelesaikan khotbah di bukit, Yesus masuk ke Kapernaum, dimana ada seorang perwira Romawi meminta Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang sedang sakit lumpuh dan sangat menderita. Biasanya, orang Romawi tidak mau meminta pertolongan dari orang Yahudi yang sedang mereka jajah. Begitu pula orang Yahudi kepada orang Romawi. Tetapi berbeda dengan perwira ini, Ia memercayai Allah yang benar dalam Alkitab dan menghormati kepercayaan orang Yahudi. Yesuspun akhirnya hendak pergi ke rumah perwira itu. Tetapi perwira itu mengatakan bahwa ia tidak layak menerima Yesus di dalam rumahnya dan ia percaya bahwa ketika Yesus hanya mengatakan sepatah kata saja, maka hambanya itu akan sembuh. Perwira Romawi ini mengerti mengenai otoritas. Sama seperti prajurit bawahan yang akan dengan taat mengikuti atasannya, begitupula otoritas Yesus yang lebih besar dari segalanya. Jadi ia hanya meminta Yesus memerintahkan dari kejauhan, maka hambanya akan menjadi sembuh. Bacalah keseluruhan kisah ini dalam Matius 8. APAKAH ARTINYA? Iman perwira Romawi ini merupakan contoh yang baik. Mengenai iman, Alkitab berbicara jelas mengenai dua hal, yaitu Iman sangat dibutuhkan untuk menjadi anak Allah Ibr. 116 dan Yesus menyukai orang yang beriman kepada-Nya. Iman, secara sederhana diartikan, sebagai percaya tanpa melihat Ibr. 111. Injil dipenuhi dengan kisah Yesus menyembuhkan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Tetapi juga ada kalanya dimana Yesus menyembuhkan dan melakukan mujizat ketika orangorang tidak mempercayainya. Beriman bukanlah suatu yang mudah untuk dilakukan. Sebagai manusia berdosa yang begitu lemah, kita seringkali sulit untuk mempercayai sesuatu yang tidak kita lihat dengan mata kita sendiri. Tetapi Yesus memanggil kita untuk percaya kepada-Nya dalam segala keadaan, tanpa alasan. Iman dibutuhkan untuk kita diselamatkan dan juga kita terus membutuhkannya untuk menjalani kehidupan yang diberkati. Teruslah bertumbuh dalam iman. LALU APA YANG HARUS DILAKUKAN? Kita membutuhkan pertolongan Tuhan untuk dapat memiliki iman yang besar, mintalah agar Tuhan memberikan kepada kita iman yang lebih besar lagi! Dan kalau anda sedang memiliki pergumulan dalam hidup anda, ini waktunya untuk kita mengaktifkan iman kita bahwa kita memiliki Allah yang maha besar. TAHUKAH ANDA? elain dalam Matius 8, Yoh. 446-54 juga merupakan kisah yang sama dimana Yesus melakukan mujizat dari kejauhan. Baca juga Renungan Harian Roma 39-10 Jangan Memandang Muka Karena Suku Bangsa
LENGKONG, - Khotbah Katolik misa Minggu 14 Agustus 2022 belajar ketaatan dan kerendahan hati dari Bunda Maria. Khotbah Minggu 14 Agustus 2022 diangkat dari kisah Injil Lukas 139-56 tentang Maria mengunjungi Elisabet. Semoga bacaan dan Khotbah Katolik misa Minggu 14 Agustus 2022 dalam Perayaan Maria diangkat ke Surga mengajarkan kepada kita tentang ketaatan dan kerendahan hati Maria. Baca Juga Cara Memasang Set Top Box STB ke TV tabung, LCD hingga LED agar Dapat Siaran TV Digital Maria adalah sosok wanita yang sederhana dan taat selalu hidup dalam takut akan Tuhan. Oleh karena dirinya benar di hadapan Tuhan, dia dipakai Allah untuk menjadi partner karya Keselamatan Allah untuk manusia. Maria menerima kabar dari Allah melalui Malaikat Tuhan, yaitu Gabriel perihal akan mengandung seorang Juru Selamat manusia, yang kemudian dikenal Yesus Kristus. Hari ini gereja merayakan Pesta Maria diangkat ke Surga. Baca Juga Pernikahan Anak Pertama Dengan Kedua Bakal Kaya Raya, Simak Karakter Keduanya Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya. Karena berpegang bahwa doa orang benar besar kuasanya Yak 516, maka betapa besarlah kuasa doa Bunda Maria yang telah dibenarkan oleh Allah, dengan diangkatnya ke surga. Apa saja teladan Bunda Maria yang perlu kita ikuti? Sikap Bunda Maria yang diajarkan kepada kita, yaitu iman dan ketaatan, selalu bersyukur, rendah hati, kesetiaan, kepedulian, ketabahan, kekudusan. Baca Juga Khotbah Kristen Minggu 14 Agustus 2022 dari Bacaan Amsal 1017-32
12 jenis sikap dari kelompok dan pribadi manusia 1. Para pemimpin agama munafik, iri hati, dikuasai kebencian, tidak adil, sok rohani. 2. Pilatus pengecut, mengamamkan dirinya, mementingkan diri sendiri, sinis, menghina. 3. Herodes pencari sensasi, mau menunjukkan kuasanya, cepat tersinggung. 4. Para serdadu romawi penuh kekejaman, mengejek, menghina, suka menyiksa. 5. Rakyat senang atas penderitaan orang lain, plin-plan, gampang dipengaruhi. 6. Penjahat di sebelah Yesus sinis, penuh penghinaan, mengejek. 7. Para murid penuh ketakutan, keputusasaan, keputusharapan. 8. Simon dari Kyrene bersedia memikul salib, terpancar daya tarik Yesus. 9. Penjahat yang memohon kepada Yesus sadar diri, memohon pengampunan. 10. Perwira romawi sadar, mengakui Yesus adalah Anak Allah. 11. Pengikut rahasia Yesus sembunyi, tidak berani di hadapan orang lain tetapi akhirnya siap melayani. 12. Para wanita dan Yohanes berani, setia sampai akhir walaupun dipenuhi kesedihan dan ketidakpercayaan.
Rancangan Khotbah Minggu Pentakosta, 15 Mei 2016Oleh Pdt. Alokasih Gulo[1] Selamat Merayakan Pentakosta, Shalom!Hari ini, kita merayakan pentakosta, merayakan peristiwa pencurahan Roh Kudus ke atas orang-orang percaya yang berkumpul di satu tempat di Yerusalem, tidak lama setelah Yesus naik ke surga lih. Kis. 2. Sejak saat itu, terjadi perubahan besar dalam diri dan kehidupan orang-orang percaya, dari yang tadinya masih ragu-ragu bahkan takut menyaksikan Kristus menjadi berani dan bersemangat memberitakan Injil Kristus ke mana-mana, mulai dari Yerusalem sendiri hingga ke bangsa-bangsa lain, termasuk ke Roma yang pada waktu itu dikenal sebagai negara “adidaya” karena memiliki kekuasaan yang cukup besar di berbagai wilayah di luar Roma sendiri, termasuk di Israel/Yahudi. Itulah sebabnya dalam kitab Roma ini Paulus kadang-kadang menyinggung tradisi/hukum Yahudi, dan kadang-kadang juga menyinggung tradisi/hukum kita tidak hanya sekadar merayakan peristiwa pencurahan Roh Kudus tersebut secara formalitas melalui kebaktian pada hari ini, tidak pula sekadar merayakannya dengan penggunaan kain liturgi berwarna merah sampai-sampai ada yang bingung memilih warna merah tersebut merah hati, merah menyala, merah jambu, merah muda, merah delima, atau merah seperti apa?; tidak juga sekadar perayaan yang terkesan monumental atau glamor sehingga kadang-kadang mengaburkan inti dari perayaan itu sendiri. Perayaan pentakosta melebihi semuanya itu, seharusnya membawa perubahan mendasar dalam diri dan kehidupan orang-orang yang telah Paulus, orang-orang percaya pada prinsipnya telah menerima Roh Allah, dan Roh Allah inilah yang memimpin orang-orang percaya dimaksud dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, bukan lagi roh kedagingan eheha nösi niha, bukan lagi roh ketakutan eheha wa’ata’u, bukan lagi roh kefasikan dan kelaliman eheha wa lö atulö, eheha wa’afaito, eheha waguaguasa, eheha wa lö sökhi, bukan lagi roh keangkuhan eheha wayawasa ba fanandrawaisi, bukan lagi roh penghakiman eheha wanguhuku, bukan lagi roh pemecah-belah eheha wamazawili, dan bukan lagi roh pembenaran diri sendiri eheha waya’osa, melainkan pembenaran oleh kasih karunia Allah bnd. Rom. 829-30. Ketika kita dipimpin oleh Roh Allah berarti kita juga tinggal bersama dengan Tuhan sifao khö Keriso ita, dan Tuhan tinggal di dalam kita so Zo’aya ba wa’aurida, dan semuanya itu akan terlihat dengan jelas dalam kehidupan kita di mana pun kita berada. Orang yang dipimpin oleh Roh Kudus atau sebaliknya tidak dipimpin oleh Roh Kudus, akan terlihat dalam kata-katanya, terlihat dalam komunikasinya dengan sesamanya bnd misalnya orang zaman sekarang lebih mudah tersenyum kepada media komunikasinya daripada kepada sesama manusia, lebih ramah dalam dunia sosial/maya daripada dunia nyata, terlihat dalam relasinya dengan sesama selalu bermasalah atau lebih harmonis, ... terlihat dalam seluruh eksistensi hidupnya. Intinya adalah bahwa orang-orang yang telah menerima Roh Allah, yang dipimpin oleh Roh Kudus, telah mengalami transformasi kehidupan tebohouni wa’auri, hidupnya berubah menjadi lebih baik dari waktu ke apa “keuntungan” kita apabila sudah menerima Roh Kudus dari Allah itu? Apakah hanya sekadar mengubah diri dan kehidupan kita menjadi orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus? Tidak! Ternyata, Roh Kudus itu juga mengubah status kita, dan ini sangat penting dan sangat menentukan bagi masa depan kita. Implikasi dari penerimaan Roh Kudus adalah bahwa setiap orang percaya yang hidup menurut Roh Allah tersebut kini disebut sebagai anak Allah yang sudah diangkat secara sah. Dalam hukum Romawi, seseorang memang sulit diangkat sebagai anak, namun apabila seseorang sekali saja berhasil diangkat menjadi anak maka statusnya sebagai anak tersebut bersifat permanen. Metafora ini tepat untuk menjelaskan kebenaran teologis tentang jaminan kehidupan orang-orang percaya yang telah menerima Roh Kudus. Anak alamiah dapat dicabut hak warisnya bahkan “dibunuh”, tetapi orang yang telah diangkat secara sah sebagai anak tidak boleh diperlakukan lagi seperti itu. Inilah salah satu cara Paulus untuk menggambarkan keselamatan orang-orang percaya Rom. 815, bnd. 823. Jadi tidak perlu lagi ada ketakutan atau kekuatiran akan pencabutan hak waris yang telah kita peroleh dari Tuhan, tidak perlu takut lagi akan adanya penghukuman atau pembunuhan, sebab kita sekarang adalah orang-orang yang telah diangkat oleh Allah sebagai itukah “keuntungan” kita apabila sudah menerima Roh Kudus dari Allah? Tidak juga! Masih ada lagi! Orang-orang percaya yang telah menerima Roh Allah, memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Allah Bapa, Ia menjadi seperti ayah kita sendiri. Istilah “Abba” berasal dari bahasa Aram, biasa digunakan oleh anak-anak Yahudi untuk memanggil ayah mereka sendiri. Jadi, orang yang telah menerima dan dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah bnd. ay. 14, yang boleh berseru kepada-Nya dengan panggilan “ya Abba, ya Bapa”, sungguh suatu panggilan mesra dan akrab; ah, begitu dekatnya dengan Tuhan, dan ini boleh terjadi karena Roh Allah sendiri menolong kita dalam seruan atau doa kita kepada Tuhan bnd. Roma 826-27. Roh Kudus inilah juga yang meyakinkan kita, dan memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah yang diangkat secara sah. Tentu, kita pun mesti menunjukkan perbuatan yang mencerminkan perbuatan anak-anak Allah, anak-anak yang tidak mempermalukan Bapanya, anak-anak yang tidak menyusahkan hati Bapanya, anak-anak yang membanggakan Bapanya, dan anak-anak yang begitu dekat dengan lain yang juga sangat penting dari pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah dan keintiman kita dengan “Ayah” kita tersebut adalah bahwa kita menjadi ahli waris Allah, dan kalau kita ikut menderita dengan Kristus maka kita juga adalah ahli waris Kristus. Pewarisan seperti ini disebut sebagai pewarisan ganda, yang juga sudah dikenal dalam PL lih. Ul. 2115-17. Anak sulung mendapat dua bagian dalam warisan, pertama hak warisan sebagai anak yang lahir dalam keluarga itu, dan kedua hak waris karena ia memenuhi persyaratan khusus sebagai anak sulung. Jadi, kalau kita percaya kepada Kristus, maka kita pun memperoleh satu warisan penting, yaitu menjadi ahli waris Allah, dalam hal ini berhak menerima janji-janji Allah untuk MASUK ke dalam Kerajaan-Nya. Namun, apabila kita memenuhi persyaratan khusus, yakni ikut menderita dengan Kristus bnd. Fil. 129, maka kita juga memperoleh warisan yang kedua/ganda, yaitu menjadi ahli waris Kristus, dalam hal ini MEMILIKI Kerajaan Allah yang telah kita masuki itu bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kalau kita “dipimpin oleh Roh Allah”, dan kalau kita “hidup menurut Roh Allah”, kita pasti akan menderita dengan Kristus. Hidup menderita yang kita jalani dalam Roh Allah bersama Kristus inilah yang kemudian membuat kita dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Inilah pengharapan orang-orang percaya yang telah menerima dan dipimpin oleh Roh berefleksi, Roh Kudus pasti menyertai![1] Khotbah Minggu, 15/05/2016, di Kebaktian Siang BNKP Jemaat Denninger.
Minggu, 10 Oktober 2021 Edit Setiap orang percaya telah menerima anugerah keselamatan dalam darah Yesus Kristus. Yesus telah memerdekakan kita dari dosa. Apapun latar belakang kehidupan kita. Apakah sahabat adalah seorang pelajar yang sedang berjuang untuk lulus? Atau seorang anak muda yang sedang mencari identitas diri. Seorang Ibu Rumah Tangga yang bergelut dengan rutinitas yang tanpa henti atau seorang wanita karir dengan 1001 impian yang sedang dikejar. Apakah saat ini sahabat sedang menikmati puncak kesuksesan? Ataukah justru saat ini sahabat sedang terpuruk dalam masalah – masalah kehidupan? Siapapun kita dan apapun keadaan kita, Allah sangat mengasihi kita. Paulus menyampaikan kepada jemaat di Roma pada ayat 1 dan 2 bacaan kita bahwa “demikianlah sekarang tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada dalam Kristus Yesus”. “Roh yang memberi hidup memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut.” Betapa beruntungnya kita karena kita memiliki Yesus. Yesus mengasihi kita. Ia menebus kita dengan darahNya. Ia membebaskan kita dari belenggu dosa yang membinasakan. Lalu bagaimanakah kita meresponi anugerah Tuhan itu? Mari kita belajar Firman Tuhan dalam Roma 81-17 dengan tema hhotbah “Pribadi yang dipimpin Roh Allah”. Sahabatku, Allah mengaruniakan RohNya bagi kita. Jika Roh Allah ada di dalam hati kita maka kita akan mengalami kepenuhan Roh. Roh Allah akan memimpin kehidupan kita. Sebagai orang – orang yang telah ditebus oleh Kristus kita mesti menjadi pribadi yang dibaharui dan dipimpin oleh Roh Allah. Pribadi yang dipimpin Roh Allah selalu membuka hati bagi Roh Kudus untuk menyertai, memimpin dan memegang kendali atas hati, pikiran dan seluruh totalitas kehidupan. Pribadi yang dipimpin Roh Allah selalu membangun hubungan yang dekat dengan Allah. Pribadi yang dipimpin Roh Allah selalu memusatkan pikiran pada Allah. Roh Allah memberi hikmat untuk berpikir, berbicara, dan bertindak sesuai dengan Firman Allah. Kehendak Allah tercermin dalam kehidupan doa, dalam kesetiaan merenungkan firman Tuhan, dalam ketekunan bersekutu dengan Tuhan dan menikmati hadirat Tuhan. Pribadi yang dipimpin Roh Allah selalu dikuatkan dan dimampukan untuk berani menghadapi ujian kehidupan. Dalam situasi yang sangat sulit, Roh Kudus menolong kita mengungkapkan isi hati yang tak terucapkan dengan kata – kata saat kita berdoa. Roh Kudus membimbing kita mengambil keputusan yang tepat saat kita bimbang. Roh Kudus menguatkan kita bertahan melewati badai meskipun kita tak berdaya. Roh Kudus memampukan kita agar selalu bersyukur dalam susah dan senang. Pribadi yang dipimpin Roh Allah, taat kepada kehendak Allah, melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah dan menjauhi keinginan daging. Roh Kudus memberi kemampuan berperang melawan keinginan daging. Pribadi yang dipimpin oleh Roh Allah berbeda dengan pribadi yang hidup "menurut daging". Pribadi yang hidup menurut daging hidup dalam dosa dan menjadi seteru Allah karena mengingini, menyenangi dan memuaskan keinginan dan tabiat dosa. Roh Kudus mengingatkan kita bahwa status kita adalah anak Allah. Maka marilah kita menjaga wibawa ilahi di hidup kita dan mempertahankan warisan sorgawi yang disediakan kelak bagi kita. Setialah sebagai pribadi yang dipimpin Roh Allah meski keinginan daging selalu menggoda kita setiap saat. Kita sudah dimerdekakan dari dosa, jadi jangan kalah dan menyerah terhadap godaan dosa. Apapun masalah yang kita hadapi, janganlah bimbang melainkan percayalah bahwa bahwa kita adalah pewaris segala janji Allah. Bila kita mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, mustahil kita bisa hidup secara konsisten sebagai pribadi yang dipimpin oleh Roh Allah. Hanya oleh pertolongan Allah kita dapat hidup berkenan kepada Allah. Jika kita setia maka kita dapat menikmati kehidupan yang berkemenangan di dalam Roh. Taatlah sebagai pribadi yang dipimpin Roh Allah meskipun jalan yang ditempuh adalah jalan derita. Teladanilah Yesus yang setia menempuh jalan derita untuk membawa kita pada kemenangan. Kita adalah anak – anak Allah yang hidup dipimpin oleh Roh Allah. Tidak ada hal apapun dalam kehidupan kita, yang luput kendali Allah. Justru sebenarnya lewat berbagai pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, kita belajar mengalami dan menikmati karya Allah. Hiduplah sebagai anak-anak Allah, hidup kita bukan lagi menjadi milik kita, melainkan Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah. Berserahlah dalam pimpinan Roh Kudus, untuk menjadi pribadi yang hidup berkenan kepada Allah. Pribadi yang dipimpin Roh Allah. Amin. Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati. On Youtube PRIBADI YANG DIPIMPIN ROH ALLAH
khotbah singkat dari roma 14 17