Judul: Negeri 5 Menara Penulis : A Fuadi Penerbit : Gramedia Berat Buku : 350 gram Harga normal : Rp 50.000 Harga diskon : Rp 45.000 (hemat 10%)-----Untuk pemesanan buku ini di Toko Buku Online Hanan, bisa melalui : - Berkunjung dan berkomentar di fanpage facebook kami : Sahabat Buku Hanan - Mention di twitter @bukuhanan - Kirim ke email Negeri5 Menara Sebuah Novel yang Terinspirasi Kisah Nyata A. Fuadi @ 2009 GPU - Cet. 7, Juni 2010 432 hal. Awalnya, Alif marah ketika Amaknya meminta ia melanjutkan sekolah ke pendidikan agama. Padahal, dengan nilai yang sangat baik yang ia peroleh, ia bisa melanjutkan ke SMA. Sejak SD, Alif sudah bersekolah di madrasah. Merupakanbuku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara, buku ini masih berfokus pada kisah Alif si pemburu beasiswa yang memendam harapan ingin mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri. Dalam novel ini, persaingan antara Alif dan Randai untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, adalah bagian yang paling enak untuk disorot. RESENSINOVEL “NEGERI 5 MENARA“ A. Identitas Buku. Judul Novel : Negeri 5 Menara K ategori Buku : Novel Pengarang : Ahmad Fuadi Bahasa : Indonesia Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Agustus 2009 Jumlah Halaman : 424 hal Harga Buku : Rp 55.000,- B. Sinopsis . Negeri5 Menara telah diangkat ke layar lebar tahun 2011 dan buku ini mendapatkan penghargaan : Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010 dan Penulis & Buku Fiksi Terfavorit 2010 versi Anugerah Pembaca Indonesia. Pada 2011, Fuadi dianugerahi Liputan 6 Award, SCTV untuk kategori Motivasi dan Pendidikan, Penulis Terbaik IKAPI dan Juara 1 Karya sVd7BGC. October 20, 2013 1218 pm Judul Novel Negeri 5 Menara Judul resensi novel Negeri 5 Menara Pengarang A. Fuadi Penerbit Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit Agustus 2010 Kota Terbit Jakarta Jumlah Halaman 424 hal Resensi Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi yang merupakan novel best seller ini, menceritakan kisah lima orang sahabat yang mondok di sebuah pesantren yaitu Pondok Madani PM. Novel best seller ini merupakan novel pertama dari trilogi yang secara apik bercerita tentang dunia pendidikan khas pesantren, lengkap dengan segala pernak-pernik kehidupan para santrinya. Alif Fikri adalah seorang yang sangat menginginkan sekolah di SMA Bukittinggi Sumatera Barat dengan berbekal nilai ujian yang lumayan bagus. Namun mimpinya seakan sirna, musnah tak berbekas, karena Amaknya tidak mengijinkan. Beliau ingin Alif sekolah di Madrasah Aliyah yang berbasik agama, dengan alasan Amak ingin Alif menjadi Ustad Ulama. Dengan setengah hati, Alif menerima keinginan Amaknya untuk sekolah agama. Awal mulanya dia sangatkaget dengan segala peraturan ketat dan kegiatan pondok. Untunglah, dia menemukan sahabat-sahabat dari berbagai daerah yang benar² menyenangkan. Niatan setengah hatinya kini telah menjadi bulat. Di bawah menara PM inilah mereka berlima justru menciptakan mimpi²i lewat imajinasinya menatapi langit dan merangkai awan-awan menjadi negeri impian. Mereka yakin kelak impian itu akan terwujud. Karena mereka yakin akan mantra ampuh yang mereka dapatkan dari Kyai Rais Guru Besar PM, yaitu man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Kelebihan novel ini adalah mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok yang hanya belajar agama saja. Karena dalam novel ini selain belajar ilmu agama, ternyata juga belajar ilmu umum seperti bahasa inggris, arab, kesenian dll. Pelajaran yang dapat dipetik adalah jangan pernah meremehkan sebuah impian setinggi apapun itu, karena allah Maha mendengar doa dari umatNya. Sumber 100% found this document useful 2 votes363 views16 pagesDescriptionBuku novel negeri 5 menaraCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsPDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 2 votes363 views16 pagesResensi Novel 5 Menara Jump to Page You are on page 1of 16 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 14 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. September 19, 2022 100 am . 5 min read Resensi Novel Negeri 5 Menara ini akan membantu kamu memahami isi sebenarnya dari novel ini. Terlebih dari itu, kamu bisa menentukan sikap apakah kamu akan membeli atau tidak. Dalam resensi novel Negeri 5 Menara ini kamu akan mengetahui identitas, sinopsis, intrinsik, ekstrinsik hingga pesan moral dan amanat yang terkandung di dalamnya secara lengkap. Resensi Novel Negeri 5 Menara Berikut ini adalah resensi novel Negeri 5 Menara Karya Ahmad Fuadi 1. Identitas Novel Negeri 5 Menara Judul Novel Negeri 5 MenaraPenulisAhmad FuadiPenerbitPT Gramedia Pustaka UtamaKategoriNovel PendidikanTahun Terbit2009 2. Sinopsis Novel Negeri 5 Menara Novel ini mengisahkan seorang remaja bernama Alif yang lahir di Maninjau dan tak pernah menginjak tanah di luar Minangkabau. Namun, suatu hari ia harus pergi ke pelosok Jawa Timur. Ibunya menginginkan ia menjadi Buya Hamka meski ia ingin menjadi Habiebie. Tak ayal Alif menuruti perintah ibunya untuk pergi ke pondok pesantren bernama Pondok Madani. Dipersatukan oleh hukum jewer berantai akhirnya Alif memiliki teman yaitu Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep. Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Di mata belia mereka awan-awan di bawah menara mesjid itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Lalu kemana jiwa impian muda mereka akan berlabuh? 3. Kelebihan Novel Negeri 5 Menara Berikut merupakan kelebihan dari novel Negeri 5 Menara , diantaranya adalah Novel ini sangat inspiratif karena dapat mendongkrak semangat anak muda dalam menimba ilmu dan mencapai segala cita-cita. Serta bersikap patuh terhadap orang kelebihan novel ini merubah pemikiran masyarakat bahwa di pesantren bukan hanya belajar ilmu agama saja. Melainkan ilmu-ilmu lainnya pun di pelajari seperti mempelajari bahasa inggris, kesenian, bahasa arab, dan juga ilmu pengetahuan kepada pembaca bahwa jangan pernah meremehkan sebuah impian. Milikilah impian atau cita-cita yang tinggi dan yakin lah dalam mewujudkannya serta diiringi do’a dan juga support tinggi dari orang tua. 4. Kekurangan Novel Negeri 5 Menara Sebagaimana novel-novel lainnya bahwa novel Negeri 5 Menara juga memiliki kekurangan yaitu di sayangkan dari novel ini yaitu kisah akhir para tokoh-tokohnya kurang jelas begitu pula nama-nama tokohnya. Dilihat dari kekurangannya ini tidaklah seberapa dibanding dengan kelebihan-kelebihan yang banyak dari novel ini. 5. Unsur Intrinsik Novel Negeri 5 Menara Berikut merupakan unsur intrinsik dari novel Negeri 5 Menara, diantaranya adalah Tema Tema dalam novel negeri 5 menara ini menceritakan tentang pendidikan dan sebuah kerja keras yang menghasilkan kesuksesan. Tokoh dan Penokohan Alif, memiliki sosok yang penurut, patuh, bertanggung jawab, cerdas dan baik adalah sosok ibu yang ramah, peduli terhadap peradaban islam di masa depan, serta adalah sosok yang peduli dan setia kepada anaknya. Serta orangnya sangat sosok yang mandiri, rajin belajar, setia Lubis, percaya diri, rajin membaca, mau berpikiran dewasa, namun kurang percaya orang yang agamis, peduli, dan sangat berbakti kepada orang orang yang selalu menepati janji, juga humoris. Alur Alur yang digunakan dalam novel Negeri 5 Menara ini menggunakan alur campuran yaitu adanya alur maju dan alur mundur. Latar Waktu Latar waktu yang terdapat dalam novel 5 menara adalah sore hari, pagi hari, malam hari dan dini hari. Latar Tempat Latar tempat yang terdapat dalam novel Negeri 5 Menara adalah Pondok Madani, Aula, Lapangan, Kamar, Menara, Kelas, Bandung Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam novel Negeri 5 Menara ini yaitu menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Karena penggunaan kata ganti orang pertama yaitu ”Aku”. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel Negeri 5 Menara ini menggunakan bahasa yang sederhana dengan ditambahkan beberapa majas seperti hiperbola, personifikasi, dan juga asosiasi. Amanat Novel Negeri 5 Menara ini memberikan pesan moral pendidikan yang sangat dalam. Khususnya kita harus bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam meraih impian serta mencapai kesuksesan. Apabila kita bersungguh-sungguh pasti apapun akan tercapai. Namun, tidak lupa dengan meminta restu dari kedua orang tua dan seyogianya kita sebagai anak yang baik harus menghormati dan berbakti kepada orang tua kita. 6. Unsur Ekstrinsik Novel Negeri 5 Menara unsur ekstrinsik novel Negeri 5 Menara diantaranya adalah Nilai Sosial Nilai sosial yang terkandung dalam novel Negeri 5 Menara ini yaitu kebersamaan antara para santri dalam menghadapi kerasnya pendidikan di pesantren dan mengajarkan kepada mereka bahwa menuntut ilmu kita harus sabar dan pantang menyerah. Nilai Moral Nilai moral yang terkandung dalam novel ini yaitu tentang bagaimana patuh dan meneruti semua perintah baik dari orang tua yang seperti di lakukan Alif dan kawan-kawannya. Nilai Pendidikan Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel ini yaitu tentang pentingnya pendidikan islam terhadap anak-anak. Dan pesantren merupakan salah satu tempat untuk belajar agama yang baik. Nilai Agama Novel ini menceritakan tentang kehidupan murid-murid di pesantren yang banyak mengajarkan tentang ilmu-ilmu keagamaan khususnya. Dan hal tersebutlah yang membedakan novel ini dari novel lainnya 7. Pesan Moral Novel Negeri 5 Menara Pesan moral yang terkandung dalam novel ini adalah tentang bagaimana firman Allah tentang “Manjadda wa Jadda” yang artinya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh niscaya akan tercapai. begitu pula dengan cita-cita dan harapan kita jika kita bersungguh-sungguh maka apa yang menjadi kehendak kita pasti akan terwujud. selain itu novel ini juga mengajarkan kita bagaimana bersikap terhadap orang tua. Ilustrasi Cover buku Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. istimewaNovel karya Ahmad Fuadi ini bercerita tentang lima orang sahabat yang mondok di pesantren, lalu saat dewasa mereka kembali ini merupakan kisah inspiratif dengan tokoh bernama Alif yang tinggal di daerah terpencil di Pulau Sumatera, tepatnya di Desa Maninajau, Minangkabau, Sumatera lulus SMP dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Bukittinggi, namun ibunya ingin dia melanjutkan sekolah agama saja. Ibunya ingin Alif seperti Buya Hamka, namun Alif bercita-cita seperti BJ tak ingin dirinya hanya terus di kampung. Ia sangat ingin merantau ke kota untuk menggapai cita-citanya. Banyak orang sukses di sana sehingga membuat ia termotivasi untuk merantau ke ketika ia mendapat surat dari pamannya yang sedang kuliah di Kairo. Pamannya menyarankan Alif untuk melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren Madani di Ponorogo, Jawa Timur. Akhirnya Alif mengikuti saran pamannya dan dengan berat hati ibu dan ayahnya Cover buku Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. istimewaAlif berangakat ke Pondok Madani diantar oleh ayahnya. Dan di sinilah kisah Alif pertamanya di pondok dia terkesima dengan mantra ajaib berbahasa arab ”man jadda wa jadda,” barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan Pondok Madani Alif berkenalan dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Alif dihabiskan dengan belajar, belajar, dan belajar. Mereka bukan hanya belajar Al-Quran dan kitab, tapi mereka juga belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris, kesenian, pramuka, dan ilmu pengetahuan sore menjelang azan maghrib, Alif bersama lima temannya memiliki kebiasaan unik. Mereka berkumpul di bawah menara masjid sambil memandang ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka menggambarkan Alif mengakui jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, yaitu negara yang ingin ia kunjungi kelak setelah lulus. Begitu juga dengan yang lainnya, menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir, dan Benua melalui lika-liku di pesantren, akhirnya usai lulus mereka dipertemukan lagi di London. Mereka bernostalgia dan telah membuktikan impian dan cita-cita yang dulu dilukis saat berdiri di bawah masjid bersekolah dan bekerja di Amerika, Atang sudah delapan tahun menuntut ilmu di Kairo, Baso kuliah di Arab Saudi, ia mendapat beasiswa penuh, Raja di London, Said dan Dulmajid bekerjasama mendirikan sebuah pondok di Negeri 5 Menara menara ini juga telah diangkat menjadi sebuah film dengan judul yang sama, diproduksi oleh Kompas Gramedia Production bersama Million Pictures, dan diputar serentak di bioskop seluruh Indonsia pada tanggal 1 Maret 2012Novel ini cocok dibaca oleh semua kalangan baik dari kalangan anak kecil maupun orang dewasa. Novel ini menggambarkan sebuah persahabatan sehingga dapat dijadikan contoh yang baik bagi para ini sangat inspiratif karena dapat mendongkrak semangat anak muda untuk menggapai cita-cita dan jangan pernah takut terhadap mimpi yakinlah bahwa Allah telah memberikan kesuksesan untuk hambanya yang mau berusaha. Ingat ”man adda wajadda’’Novel ini mampu mengubah tentang pola pikir masyarakat yang konservatif terhadap pesantren. Mereka menilai bahwa di pesantren hanya mempelajari ilmu agama saja, namun faktanya juga mempelajari bahasa Arab, bahasa Inggris, kesenian dan ilmu pengetahuan beberapa kata bahasa Arab yang tidak diterjemahkan sehingga mempersulit orang awam dalam memahami ini tidak memberikan gambaran tokoh lain-lainnya secara jelas di akhir cerita perjalanan buku Negeri 5 MenaraPenerbit Utama Gramedia Pustaka UtamaCetakan Cetakan ketigapuluh April 2021Deskripsi Fisik Tebal 423 halamanPenulis Resensi Qoniatul Qismah SPd Penulis resensi buku adalah guru penggerak Kampung Ilmu Negeri 5 Menara merupakan buku pertama dari novel trilogi karya A. Fuadi yang bercerita tentang kehidupan di Pondok Pesantren. Judul Negeri 5 Menara Pengarang A. Fuadi Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Halaman 345 Bermimpilah setinggi langit. Meskipun kita tidak pernah tahu bagaimana cara meraih mimpi tersebut. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari. Novel ini merupakan novel trilogi pertama dari Novel Negeri 5 Menara. Dengan tokoh utama Alif Fikri seorang anak dari pinggiran Danau Maninjau, Sumatera Barat yang baru lulus Madrasah Sanawiyah berkeinginan untuk melanjutkan sekolah ke SMA negeri. Karena dia bersama teman masa kecilnya Randai bercita-cita kuliah di ITB. Supaya kelak bisa seperti BJ Habibie yang bisa membuat pesawat terbang. Baca juga novel trilogi yang lain yaitu berjudul Rantau 1 Muara Sayangnya keinginan Alif tersebut tidak disetujui oleh emaknya yang berkeinginan supaya dia sekolah agama di pesantren. Emak Alif berpendapat kalau selama ini pesantren selalu identik dengan anak nakal dan anak miskin. Sehingga emaknya takut para pemimpin agama berasal dari kalangan yang tidak benar. Dengan kepintaran Alif, emaknya berkeinginan supaya dia bisa menjadi seorang ulama seperti Buya Hamka. Dengan terpaksa akhirnya Alif memilih pesantren di Jawa. Tepatnya di Pondok Madani, Gontor. Sebuah pesantren di kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Meskipun pada awalnya merasa terpaksa memasuki pesantren, namun lama kelamaan dia mulai kerasan. Apalagi setelah bertemu dengan teman- teman baru dari berbagai suku. Ada 6 anak yang selalu bersama dengan Alif dalam segala aktifitas di pesantren. Mereka adalah Baso seorang anak yatim piatu yang diasuh neneknya, berasal dari Sulawesi. Raja berasal dari Aceh. Dulmajid dari pulau Garam, Madura. Atang dari Bandung dan Said berasal dari Surabaya. Keenam anak tersebut hampir tiap hari berada di bawah menara Pondok pesantren. Tepatnya disamping masjid. Mereka menggunakan tempat itu untuk belajar dan berdiskusi tentang berbagai hal dalam kehidupan. Karena seringnya mereka berada di bawah menara, akhirnya mereka dijuluki sohibul menara atau yang mempunyai menara. Pada suatu waktu dari bawah menara mereka memperhatikan langit yang diwarnai berbagai bentuk awan. Menurut mereka awan-awan tersebut menggambar pola negara. Menurut Alif, awan tersebut seperti negara America. Atang mengatakan seperti Mesir. Raja mengatakan seperti bentuk negara Belanda. Sementara Said, Baso serta Dulmajid mengatakan seperti negara Indonesia. Saat ujian akhir sekitar 6 bulan lagi, Baso memutuskan mengundurkan diri dari pondok pesantren karena ingin mengasuh neneknya yang sedang sakit parah. Bagi Baso merawat neneknya jauh lebih penting karena hanya beliaulah keluarga yang tersisa bagi dia. Meskipun berat melepaskan Baso, tetapi kelima sahabat tersebut tetap semangat untuk menyelesaikan pendidikan di pondok. Dengan berbagai kesulitan yang dihadapi. Setelah beberapa tahun lulus dari pesantren, keinginan mereka ternyata tercapai yaitu Alif bisa belajar di Amerika. Raja kuliah sambil bekerja di Belanda. Begitu juga Atang bisa menginjakkan kaki di Mesir untuk bekerja dan belajar. Sementara Said dan Dulmajid bekerja sama mengembangkan pondok pesantren yang mereka dirikan. Sedangkan Baso meskipun tidak lulus pesantren dia mampu menjadi hafizh Alquran, sehingga memperoleh beasiswa penuh dari negara trilogi yang lain berjudul Ranah 3 Warna Dari novel ini kita bisa banyak mengerti tentang kehidupan di pondok pesantren. Bagaimana mereka belajar, melakukan kegiatan extra serta kegiatan lain yang sangat padat jadwalnya. Karena sebagian cerita merupakan pengalaman pribadi penulisnya yaitu A. Fuadi, yang pernah mendalami ilmu di Pondok Madina. Novel Negeri 5 Menara ini merupakan novel motivasi untuk semua kalangan. Terutama untuk anak remaja yang masih bingung mencari jati diri. Karena terkadang mereka takut bermimpi melihat keadaan mereka saat itu. Padahal dengan mimpilah kita bisa merubah keadaan yang tidak mungkin menjadi mungkin.

resensi buku negeri 5 menara